Halte Merah Darah

Prolog — Sore ini kulewati lagi jalan yang sama, jalan yang pagi itu kulalui dengan hati berdebar. Tapi sore ini ada rasa yang berbeda, jalan ini kulalui dengan hati bergetar. Rasanya waktu menggiringku untuk kembali ke tempat ini. Klik — I am in repair — sepenggal lirik lagu John Mayer menemaiku duduk kembali ditempat ini, membuka lagi lembar demi lembar goresan pena tak kasat mata dihidupku.

“Aku sampai stasiun sekitar jam 9 mas, nanti kita ketemu di sekitar Kota Barat saja.” Pesan yang Kinanti kirim pagi itu kepadaku (Ya, perkenalkan namanya Kinanti). Sebuah pesan yang entah kenapa membuatku berbegas bangun dari tempat tidur. Seketika aku melihat jam dinding putih tulang kenang-kenangan pensiun dari rekan kerja Bapak. Arah jarum jam pendek menuju ke angka 8. Mata tiba-tiba bersinar seperti kesetrum aliran listrik dari jarum jam tersebut. Aku menuju kamar mandi, mandi dengan kecepatan kilat. Ku pilah-pilih baju yang menurutku pas, akhirnya ku pilih kemeja pdl-ku,  lengan panjang hitam pekat. Bebtik ku stater. Ya bebtik, singkatan dari bebek metik merah yang telah menemaniku hampir satu dekade. Sebelum ku tancap gas, ku kirim pesan ke Kinanti “Entar ku jemput di stasiun saja mbak, baru nanti kita ke Kota Barat.”  Jiwa lelakiku keluar, tak mungkin ku biarkan seorang perempuan sendirian menelusuri sudut kota ini. Kulirik sekilas jam tanganku, waktu menunjukan pukul 8.20. Bebtik kemudiaan melaju perlahan mengiringi langkahku. Selama perjalanan hati ini merasa was-was, banyak tanya dalam hati. Gimana ya kalau Kinanti gak benar-benar datang? Gimana ya kalau entar aku telat, dia udah pergi kali? Dia mau gak ya aku bonceng pake motor? Deretan tanya lain berjejer rapi di dalam hati.

Jalanan lurus antara lereng merapi – lereng lawu seolah tak berujung. Lawu dihadapanku, bak dinding yang menjulang tinggi seakan pertanda bahwa apa yang akan aku temui nanti tak mudah untuk didaki. Merapi yang berapi-api dibelakangku seolah menyokongku untuk menaklukkan tingginya dinding itu. Merapi semakin jauh dariku, membuat hati ini semakin ciut. Waktu semakin mengejarku tetapi motor tua ini tak jua mau menambah kecepatannya. Sampai stadion mahameru, motor ku pinggirkan sejenak. Ku tarik nafas dalam-dalam, berdoa sejenak agar aku siap pada apapun yang terjadi nanti. Motor kembali kupacu perlahan belok ke kiri, melewati palang perlintasan kereta api yang setia menjaga kereta agar tidak tersentuh oleh kendaraan lainnya. Kulewati jalan ini, jalan bunga namanya. Sepanjang jalan banyak berjejalan penjual bunga, membuat aroma semerbak bunga tercium sampai ke relung hati. Hal ini yang selalu membuatku rindu kembali melewati jalan ini.

Di ujung jalan bunga ada belokan terakhir menuju stasiun. Perlahan aku mendekati belokan itu. Hati semakin was-was tak menentu. Ku kurangi tarikan gas motor, belok ke kiri , di kejauhan terlihat sebuah tulisan besar “Stasiun Balangeni”. Yaps, aku telah sampai. Ku pinggirkan motor tepat di depan stasiun, sebelah halte bis tepatnya. Kemudian sejenak ku ketik pesan “Mbak aku sudah sampai di depan stasiun, mbak dimana? ” Pesan terkirim. Sambil menunggu balasan pesan tersebut, ku pandangi sekeliling stasiun sambil mencari sesosok perempuan. Tapi tak jua mata ini menemukan sosok tersebut. Ding – pesan masuk “Tunggu sebentar ya mas aku masih di dalam.” Seketika jari jemariku bergerak cepat tanpa aba-aba, membalas pesan tersebut. “Ok, aku tunggu di depan mbak, aku di dekat halte bis warna merah darah.”

Tubuh kusandarkan di pojok halte. Mata elangku berkeliling mencari sosok perempuan, berjilbab, setengah dewasa dan tentunya sendirian. Tak berselang lama mataku tertuju pada sosok perempuan berbaju merah jambu. Kutatap dengan tajam melalui sela besi pagar stasiun, di antara huruf  “a” dan “n”. Mataku tak berkedip memperhatikan gerak sosok perempuan itu.  Perempuan tersebut berjalan menuju arah halte. Rasa ragu semakin begelantungan di ubun-ubun. Ragu, apakah memang benar dia sosok yang kutunggu. Tanpa aba-aba langkah kakiku tiba-tiba mendekati perempuan berbaju merah jambu itu “Mbak Kinanti ya??? ” tanyaku dengan lembut. Hanya anggukan dan senyuman kecil yang keluar dari perempuan itu. Walaupun bukan sebuah respon yang aku harapkan tapi setidaknya aku tidak salah orang.hehehehe 

Ku tancap gas motorku menuju Kota Barat, tentunya Kinanti duduk dibelakangku. Kota Barat, ku harap kau mendukungku dengan segenap kekuatannmu!

Epilog — Halte merah darah, terima kasih telah mempertemukanku dengan sosok  yang menginspiraku untuk menulis. Terima kasih telah menemaniku ngobrol berjam-jam tanpa rasa bosan. Kau tahu sendiri aku bukan orang yang verbal. Terima kasih untuk jabat tangan itu, jabat tangan yang tidak pernah sesesak itu. Aku masih ingat betul saat terakhir kau jabat tangan ini dengan erat, perlahan kau balik badan untuk kembali ke kotamu. Terima kasih untuk impian itu, impian untuk belajar sambil mengitari bumi bersama. Aku takkan lupa. Klik – Stop – Ku hentikan putaran lagu. Aku pejamkan mata erat-erat sambil mencoba melepas masa lalu, berdamai dengan keadaan. Aku tersadar. Everything is not okay. I am in repair.